..::Selamat Datang Di Ikatan Da'i Indonesia Daerah Jember::..

Rabu, 15 Oktober 2008

Industri Keuangan Syariah, Tumbuh di Tengah Krisis Global Sistem Kapitalis


eramuslim - Lembaga keuangan syariah kembali membuktikan daya tahannya dari terpaan krisis keuangan yang melanda dunia. Sementara bank-bank konvensional di seluruh dunia bangkrut atau merugi hingga lebih dari 400 milyar dollar akibat krisis di sektor kreditnya, industri perbankan syariah menunjukkan menunjukkan kebalikannya.
Lembaga-lembaga keuangan syariah tetap memberikan keuntungan, kenyamanan dan keamanan bagi para pemegang sahamnya, pemegang surat berharga, peminjam dan para penyimpan dana yang mempercayakan uangnya didepositkan di bank-bank syariah.

Di tengah krisis keuangan global, industri keuangan syariah malah mengalami pertumbuhan sebesar 1 triliun dollar dan dipekirakan akan terus berkembang meliputi investor-investor non-Muslim.

Para investor yang trauma akibat krisis keuangan bisa lebih nyaman jika menanamkan investasinya di lembaga-lembaga keuangan syariah, yang menerapkan peraturan ketat berdasarkan hukum Islam dalam memberikan pinjaman. Sistem keuangan berbasis syariah mensyaratkan untuk mengambil keuntungan hanya dari investasi-investasi yang dilakukan secara etis dan bertanggunggung dari sisi sosial. Sistem ekonomi syariah, melarang mengambil keuntungan dari sistem riba, seperti sistem bunga yang diterapkan bank-bank konvensional dan melarang mengambil keuntungan dari investasi-investasi haram seperti perjudian, pornografi dan bisnis babi.

”Krisis ini merupakan titik balik bagi sistem pinjaman konservatif yang sudah usang. Kondisi pasar global sekarang ini memberikan kesempatan yang besar bagi lembaga keuangan Islami untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukannya-untuk mengisi gap likuiditas yang terjadi,” kata David Testa, Eksekutif Gatehouse Bank yang memulai operasinya sebagai bank Islam kelima di Inggris, bulan April kemarin.

Asian Development Bank (ADB) mempekirakan, asset-asset lembaga keuangan islami secara global mencapai 1 triliun dollar dengan angka pertumbuhan per tahun sebesar 10 sampai 15 persen. Perkiraan ini bisa lebih tinggi, karena perkembangan pesat industri keuangan Islami telah menarik minat perusahaan-perusahaan dari luar Timur Tengah.

Para analis keuangan sudah banyak yang mengakui bahwa industri keuangan Islami menerapkan sistem yang berbeda yang membuat resikonya relatif kecil. Meski ada juga sejumlah analis yang meragukan keamanan sistem keuangan berbasis syariah. Mereka mengatakan, para komentator terlalu bersemangat dalam mempromosikan keunggulan-keunggulan sistem keuangan Islami sebagai produk yang aman.

”Sistem keuangan Islami tidak kebal terhadap resiko,” kata Mohamad Damak dari Standard & Poor’s. Ia mengkritik maraknya pembiayaan real estate di kawasan Teluk selama tiga tahun belakangan ini-terutama pembiayaan yang dilakukan lembaga-lembaga keuangan syariah-di tengah membubungnya harga-harga properti.

”Koreksi di sektor real estate akan menimbulkan dampak bagi bank-bank Islami yang terlibat dalam bisnis ini. Sistem keuangan Islami tidak kebal terhadap krisis,” kritik Damak.

Sementara sejumlah analis masih memperdebatkan soal keamanan sistem keuangan Islami, banyak pula yang mengakui bahwa industri keuangan Islami kini mulai dilirik banyak orang yang sudah kehilangan kepercayaan dengan sistem keuangan kapitalis.

”Jika bank-bank Islami menunjukkan langkah maju, maka sistem keuangan Islami akan menjadi daya tarik,” kata Testa.
Sukuk Menjadi Pilihan
Krisis keuangan di Barat menyebabkan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia kehilangan kepercayaan dengan sistem pinjaman konvensional. Mereka kini mulai mengalihkan perhatian ke lembaga-lembaga keuangan Islami di kawasan Teluk untuk mengamankan dana-dana mereka. Dan yang menjadi daya tarik perusahaan-perusahaan Barat itu adalah sukuk, surat obligasi negara syariah.

”Banyak klien kami mulai melihat ke Timur Tengah dan ke institusi-institusi di Timur Tengah. Mereka menjajagi apakah lembaga-lembaga itu bisa membantu bisnis mereka dan apakah ada peluang-peluang yang lebih luas bagi institusi-institusi Barat untuk masuk ke Timur Tengah dan mengadopsi standar-standar keuangan Islami,” kata Neil Miller, ketua departemen keuangan Islami di Norton Rose.

Menurut Miller, perusahaan-perusahaan dari berbagai belahan dunia mau melakukan apa saja agar bisa mendapatkan akses ke negara-negara petrodollar, termasuk mekonfigurasi ulang transaksi-transaksi untuk menghindari agar asset dan struktur mereka tidak dianggap bertentangan dengan konsep syariah.

”Mereka yang mengatur hal itu sedang mellihat apakah mereka bisa merekstrukturisasi kesepakatan-kesepakatan mereka ke dalam kesepakatan-kesepakatan yang berbasis syariah. Mereka juga sedang melihat apakah bisa membuat sebuah peluang investasi atau apapun itu, yang paralel dengan konsep syariah,” papar Miller.

Perkembangan baru ini terjadi seiring dengan makin maraknya pasar sukuk. Situs Arabianbusiness menyebutkan, meski tahun 2008 mengalami perlambatan, sampai tahun ini, surat obligasi negara syariah mengalami perkembangan yang cukup pesar di pasar surat berharga di seluruh dunia. Nilai sukuk meningkat dua kali lipat setiap tahunnya sejak tahun 2004. Pada akhir tahun 2007, nilai sukuk bahkan mencapai 90 milyar dollar di seluruh dunia dan posisinya sebagai pilar penting dari sistem keuangan Islami tidak perlu dipertanyakan lagi.

Minat yang besar perusahaan-perusahaan Barat pada sukuk sebagai alternatif pembiayaan , apalagi setelah krisis keuangan yang terjadi saat ini, diakui oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Surin Pitsuwan.

Dalam Konferensi Economic Outlook for Southeast Asian Countries di Dubai pekan kemarin, Pitsuwan mengatakan, “Saya piker perusahaan-perusahaan asing menyadari bahwa ada banyak alternatif dan mereka akan mengeksplorasi lebih dalam. Mereka akan melihat inisiatif baru, ke bank-bank Islami untuk mendapatkan modal dan sumber-sumber untuk melayani klien-klien mereka. Kecenderungan ini mulai meningkat.”
(ln/IHT/Islamicity/Ab)

Selengkapnya.....

Sabtu, 11 Oktober 2008

MUI dan FUI Sesalkan Sikap DPR Mengulur Pengesahan RUU Pornografi



eramuslim,Jumat.10 Okt 2008,08:21 - Sikap Forum Ukhuwah Islamiyah dan Majelis Ulama Indonesia, terdiri dari enam poin. Pertama, menyesalkan sikap DPR yang kembali mengulur waktu pengesahan dengan mengadakan uji shahih di tiga daerah, Bali, Jogyakarta dan Sulawesi Utara.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan rapat bersama sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islamiyah. Mereka yang hadir antara lain dari Muslimat NU, Nasiyatul Aisyiah, Wanita Islam, Fatayat NU, Alumni Timur Tengah, Kohati, Aisyiah, Wanita Islam, Forum Umat Islam serta HTI.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan sikap Forum Ukhuwah Islamiyah dan Majelis Ulama Indonesia, terdiri dari enam poin. Pertama, menyesalkan sikap DPR yang kembali mengulur waktu pengesahan dengan mengadakan uji shahih di tiga daerah, Bali, Jogyakarta dan Sulawesi Utara. "Karena disinyalir adanya fraksi tertentu yang menolak RUU Pornografi ini. Kami menghimbau agar Pansus dan umat mengabaikan partai tertentu tersebut," kata Wellya Safitri, Sekretaris MUI membacakan enam poin pernyataan sikap tersebut, di Sekretariat MUI, Jakarta, Kamis (9/10).

Kedua, mendesak DPR agar segera mensahkan RUU Pornografi ini. Ketiga, merebaknya kejahatan pornografi baik cetak maupun elektronik dan beredarnya VCD porno sangat memprihatinkan kita semua. Oleh karena itu melalui UU ini, dihimbau kepada segenap komponen bangsa untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari kehancuran dan keterpurukan moral.

Poin keempat, Forum Ukhuwah Islamiyah MUI mendukung adanya muatan yang positif dalam RUU Pornogrfi demi terbangunnya nilai-nilai etika dan moral bangsa. "Kelima, sudah saatnya menempatkan masyarakat sebagai pelapor dan penggugat dalam pelaksanaan UU Pornografi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku," papar Safitri. Dan keenam, menghimbau pada media massa untuk mengedepankan idealisme dan tanggungjawab jurnalisme serta memberikan kepada masyarakat informasi yang seimbang dalam rangka mendukung RUU Pornografi.

Safitri mengungkapkan bahwa MUI bersama Forum Ukhuwah Islamiyah akan menggelar aksi damai di depan kantor DPR dalam waktu dekat ini untuk mendukung segera disahkannya RUU Pornografi tersebut. "Kami akan menggelar aksi damai dengan mengerahkan massa di depan kantor DPR," papar Safitri tanpa menyebutkan kapan aksi tersebut akan digelar.

Ancaman untuk turun ke jalan juga diungkapkan oleh Ketua MUI Amidhan Shaberah, dirinya sangat menyesalkan sikap DPR yang menulur-ulur waktu pengesahan RUU tersebut.

"Pada saat nanti, kita akan turun ke jalan sampai itu disahkan. Kalau tidak disahkan, berarti ada tirani minoritas yang mengulur waktu dan mendesak Panja. Sudah 9 tahun lebih, kok mau dimolorkan lagi," tegasnya.
(novel)

Selengkapnya.....

Sebuah Tausiyah



Assalamu'alaikum Wwb.

Saudaraku fillah,
Lihatlah detik kian berlalu, hari-hari berganti siang dan malam ,matahari terus bersinar tiada bosan dan bumi pun berputar pada porosnya tiada henti, bulan dan bintang tak jemu menghiasi keindahan malam hari, semua itu berjalan atas ketentuan dari ilahi dan akan terus berjalan sampai batas waktu yang ditentukan-Nya.


Saudaraku yang kucintai,
Beranjak dari kehidupan ini, manusia lahir dan tumbuh berkembang, hidup kemudian mati sesuai kodrat Allah yang Maha Kuasa, yang kemudian menjadi catatan sejarah yang kadangpun manusia tiada belajar dari sejarah itu. Berapa banyak manusia yang menutup lembaran kehidupannya dengan sia-sia dan tiada guna di akhirat, berapa banyak pula kisah-kisah yang disodorkan kepada kita melalui kalam-Nya yang mulia, terkadang pun kita sebagai manusia lengah akan hal itu pula.
Kita sebagai khairu ummatin yang dilahirkan ke atas bumi, sebagai ummatun wahidah, sebagai penyeru 'amar ma'ruf nahi munkar dan sebagai mukmin yang mengharap keridhaan-Nya agar bisa memperoleh jannatunna'im, harus menyadari akan makna, hakikat, ibrah dari kehidupan yang singkat ini. Mukmin yang sejati, merasai hidup ini adalah perjuangan, penuh halangan dan rintangan, tetapi ia selalu tabah menghadapinya, ujian yang ia rasai hanyalah ia anggap nikmat dari-Nya bukan azab.

Saudaraku,
Kadangkala kita lengah akan hidup yang kita jalani, kadangkala tak berada di jalan yang lurus, sifat-sifat syaithani telah merusaki niatan kita, melemahkan azzam dan membelokkannya dari jalan yang lurus. Rasa iri, riya, dengki dan hasad telah menutupi hati kita dari kebersihannya untuk berjuang di jalan-Nya.
Semakin kotor hati kita, semakin pula kusam dan pekat hati kita, kegelapan yang ada menyertai. Dan cahaya ilahi pun sirna oleh kehitamannya. Nur itu yang menunjukki dan membimbing kita ke jalan lurus, sirna oleh kotornya hati kita.
Jika dahulu cahya itu menerangi kalbu kita, sehingga kita selalu tersenyum tatkala bertemu wajah dengan saudara seiman, tetapi lihatlah sekarang, cahaya yang sirna telah membuat hati kita hasad, bertemu saudarapun hanya cibiran
wajah yang terlihat.

Saudaraku karena Allah,
Jika cahaya itu juga menerangi kalbu kita, sehingga senantiasa kita rajin melaksanakan qiyamullail dan terasa nikmat tatkala kita bermunajah di malam yang sepi, sirnanya nur di hati membuat kita enggan melaksanakannya lagi
bahkan kita merasa berat. Kita merasa sudah melaksanakan kewajiban 5 waktu, walaupun telat, sunnah tak perlu kita lakukan lagi. Masya Allah.
Kotornya hati telah membuat malas untuk beribadah, untuk tilawah, untuk shaum sunnah yang selalu di anjurkan junjungan kita, Rasullah s.a.w. Do'a iftitah (pembuka) di dalam sholat kita, inna sholati wannusuki wa mahyaya
wamamaati lillahi rabbil 'alamin (...sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam..) tak pernah terealisasi dalam hidup kita. Kita sering melanggar, melawan bahkan lupa mengingati-Nya.
Tapi kita tak mau disebut orang yang durhaka, munafik kepadaNya, lalu kita ini apa ? menyatakan janji tapi tak pernah menepati ?

Saudaraku,
Sirnanya cahaya di hati itu pula telah membuat kita sering melawan dan membangkang
kepada ibu, ayah kita. Mereka yang selama ini mendidik dan membimbing kita menjadi anak yang berguna, kini melawan. Kuasa apa kita ini, mereka kini semakin tiada berdaya dan lemah menghadapi perlakuan kita yang tiada benar di hadapan mereka. Ibu kita sering menangis, ayah kita semakin murung. Mereka sering bertanya dalam hati, anak yang telah dikandung selama -+ 9 bulan, kini tiada guna, anak yang telah disusui selama -+ 2 tahun kini membuang habis kasih sayang yang selama ini telah diberikannya.

Wahai saudaraku,
sirnanya cahaya telah membuat dan menjadikan kita seperti itu.
Saudaraku yang kucintai karena Allah,
Hari ini, marilah kita bertaubat, kembali kepada-Nya dan memohon ampun atas segala dosa dan kekotoran hati kita, mohon maaflah kepada ayah dan ibu kita, nyatakan kita cinta dan sayang mereka. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri.
Semoga jannatunna'im, haruman Raihan dan manisnya telaga salsabila kelak akan kita peroleh. amin. Hadiyanallah wa iyyakum ajmain. Afwan.

Wassalamu'alaikum Wwb.
(M. Ridwan Nawawi)

Selengkapnya.....

Jadwal Sholat